Sabtu, 05 Oktober 2013

Waduh, Demi Sertifikasi Guru Palsukan Ijazah!

JAKARTA - Sertifikasi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas para guru. Tetapi sayang, ternyata ada oknum guru nekad memalsukan ijazah demi meraih sertifikasi dan mendapatkan tunjangan.

Ketua Asosiasi Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Swasta Sulistiyo mengatakan, pihaknya mendesak kepolisian untuk segera menindak para pelakunya. Pasalnya, pemalsuan ini sudah dilakukan oleh sindikat yang memanfaatkan program sertifikasi profesi guru.  Dia juga meminta Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk mencermati ijazah yang ada sebelum para guru ini dikirim ke LPTK.

"Harus ada sistem agar pemalsuan ijazah ini tidak berkembang semakin banyak," kata Sulistiyo.

Sulistiyo menyesalkan, antara kedua instansi pemerintah itu saling lempar tanggung jawab mengenai pemalsuan ini. Masyarakat pun semakin menyalahkan LPTK yang kurang selektif menampung guru untuk disertifikasi. Padahal sesuai tugas dan fungsi LPTK, mereka hanya menampung calon guru yang diusulkan pemerintah. Sementara tugas administrasi seperti legalitas ijazah merupakan kewenangan Kemendikbud dan dinas pendidikan setempat untuk memeriksanya.

Ketua Pelaksana Sertifikasi Guru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M Saifuddin menambahkan, ijazah yang dipalsukan itu ada yang secara fisik dipalsukan dan tidak terdata di Kemendikbud. Dia mengungkapkan, kampusnya menemui satu ijazah palsu yang pelakunya sudah didiskualifikasi dari program sertifikasi. Sementara itu ada tujuh ijazah palsu lagi yang sedang diselidiki.

"Kami mengklarifikasi ke kampus yang menerbitkan ijazah tersebut. Lalu kami koordinasi ke Kopertis VII Surabaya untuk  menyelidiki ketujuh ijazah yang diduga palsu ini," terangnya.

Sementara Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Irwan Akib mengakui pihaknya menemukan satu ijazah palsu dari peserta yang sudah berstatus PNS. Pihaknya sendiri sudah berupaya menanyakan mengapa instansi pemerintah sampai kecolongan. Namun baik Badan Kepegawaian Daerah (BKD), kepala sekolah, kepala dinas sampai saat ini belum ada yang memberikan tanggapan akan pemalsuan tersebut.

Selain itu Rektor Universitas PGRI Adibuana Surabaya Sutiyono berkomentar, penggunaan ijazah palsu semakin lama semakin banyak. Pihaknya sendiri hingga saat ini menemukan 17 ijazah palsu yang dipakai untuk sertifikasi. Sutiyono menerangkan, adanya pemalsuan ijazah ini diketahui ketika mereka melakukan legalisasi.

"Kami melihat dari stempel yang beda, tanda tangan rektor yang berbeda serta tidak ada blangko keamanannya," ujarnya.
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar